Di era keemasan Islam, seorang wanita muda bernama Fatimah Al-Fihri menyumbangkan hartanya untuk mendanai sebuah masjid bagi masyarakat pada tahun 859 M yang terletak di kota Fez, Maroko. Setelah itu, masjid ini tidak hanya dijadikan sebagai tempat ibadah melainkan dikembangkan sebagai tempat diskusi mulai dari agama serta politik.
Fatimah Al-Fihri
merupakan seorang anak dari saudagar kaya bernama Muhammad Al-Fihri. Keluarga
Al-Fihri bermigrasi dari Kairouan, Tunisia ke Fez Maroko. Nama masjid yang
didirikan Fatimah berasal dari kota asalnya. Masjid ini bernama Al-Qarawiyyin,
lalu sebagai madrasah yang pada akhirnya menjadi universitas.
Bagi umat
muslim, Universitas Al-Qarawiyyin merupakan sumber utama bagi pendidikan serta
pengembangan keilmuan. Pada awalnya, madrasah Al-Qarawiyyin hanya berfokus pada
bidang agama Islam dan hafalan al-quran, tetapi kemudian berkembang mempelajari
bahasa Arab, musik, tasawuf, kedokteran, dan astronomi.
Seperti
universitas modern saat ini, al-Qarawiyyin secara berkala mengadakan debat,
simposium, dan memiliki beberapa perpustakaan. Perpustakaan ini menyediakan
ribuan manuskrip dari berbagai bidang keilmuan. Salinan teks yang ditulis oleh
tokoh muslim yang terkenal seperti ibnu Khaldun juga tersedia di sana bahkan
salinan al-quran yang diberikan Sultan Ahmad al-Mansur pada tahun 1602 juga
tersedia.
Pada tahun 1965 universitas ini berganti nama menjadi Universitas Al-Karaouine. UNESCO dan Guinnes World Records menetapkan Universitas Al-Karaouine sebagai universitas tertua di dunia. Sedangkan di dunia Eropa universitas baru muncul dua hingga delapan abad setelahnya, seperti uiversitas Bologna, Oxford, Cambridge, dan lain sebagainya.
By: Az-Zahra Saefudin
Tulisan yang sangat menarik! Semoga para IMMawati terus menjadi garda terdepan dalam menjunjung keilmuan
BalasHapusMasyaallah. Semakin bangga dan semangat menjadi umat islam dalam membumikan intelektualitas
BalasHapus