Setelah masuk jurusan ilmu komunikasi, saya jadi sadar, bahwa ngomong itu tidak mudah. Kalau bicara tinggal bicara, lalu makna apa yang akan tersampaikan? Dalam keseharian kita bisa mengeluarkan ratusan bahkan beribu-ribu kata, entah saat berinteraksi dengan orang lain atau saat sendiri. Dulu saat masih di SMA saya skeptic dengan jurusan Ilmu Komunikasi, karena saya mengira kalau hanya untuk berbicara yang baik, banyak platform untuk belajar, dibandingkan saya harus menepuh 4 tahun berkuliah. Tapi nyatanya, saat saya terjun ke dunia komunikasi, semua berubah.
BICARA GAK SEMUDAH ITU
Setelah selesai di semester pertama, saya baru tahu banyak permasalahan manusia ketika ia berkomunikasi. Unsur, penyampaian pesan, umpan balik, dan lainnya, merupakan hal yang bisa dianalisis ketika berkomunikasi. Pesan disampaikan, belum tentu pesan tersebut dapat sampai kepada si penerima, karena adanya noise (gangguan) dalam penerimaan pesan tersebut. Dosen saya menjelaskan bahwa berkomunikasi itu bak gunung es, sederhana jika dilihat di permukaan, namun sulit saat mencoba mancapai dasar
SULITNYA BELAJAR KOMUNIKASI
Setelah saya tahu bahwa komunikasi itu tidak sederhana, saya mencoba untuk membuat diri saya lebih paham dengan komunikasi itu sendiri. Mungkin, untuk orang yang tidak mempelajari dalam mengenai komunikasi, hanya memandang komunikasi sebagai kegiatan sehari-hari antara dua orang atau lebih. Tidak salah, namun kurang tepat. Awalnya saya juga mengira seperti itu, apa yang sebenarnya dipelajari dalam komunikasi? Nada suara? Pemilihan kata?
Ternyata, banyak hal yang harus dipelajari dari komunikasi. Pertama, unsur komunikasi, bahwa komunikasi itu harus memiliki psan yang nantinya akan dikirim oleh si pengirim dan diterima oleh si penerima. Lalu, apa umpan balik yang datang dari kegiatan kirim-terima pesan tersebut, dengan media apa pesan tersebut tersalurkan, dan apakah ada gangguan saat pesan dikirimkan. Kedua, komunikasi tidak sebatas aku dan kamu. Bahwa komunikasi banyak bentuknya, jika komunikasi hanya sebatas aku-kamu maka akan begitu sempit dunia ini. Lalu yang ketiga, faktor diri, pada poin ketiga ini saya menitik beratkan, bahwa dalam berkomunikasi kesiapan diri, mulai dari pemahaman cara berinteraksi yang efektif, skill dalam penyampaian pesan agar sampai, namun tidak hanya ke telinga si pendengar tapi juga memberikan efek yang diinginkan, serta berusaha menjaga hubungan dengan si penerima pesan dengan pembendaharaan kata supaya sampai makna pesan tersebut. Itulah adalah tiga dari sekian banyak hal yang harus diperhatikan dalam mempelejari komunikasi.
APAKAH SAYA SUDAH PINTAR BICARA?
Belum, saya masih belajar. Banyak hal yang masih belum saya pahami dari berbicara, bahkan saya masih ragu untuk mengungkapkan apa yang menurut saya benar. Nyatanya, berbicara bukan sebatas merangkai huruf lalu menjadi kata, merangkai kata lalu menjadi kalimat, lebih dari itu, bicara menurut saya merupakan hal menyampaikan rasa. Jika modal mulut dan akal dalam berbicara, lalu telinga mendengar, saya yakin tidak akan ada orang yang sakit hati ataupun gembira karena sebuah perkataan orang lain. Karena rasa yang hadir dari sebuah perkataan ataupun kalimat, akan tersimpan dalam benak seseorang, dan menjadi memori untuknya.
Berangkat dari pemikiran ini, memamang benar berbicara memerlukan seni di dalamnya, seni dari seorang pengirim pesan dalam mengirimkan pesan kepada penerima, agar pesan tersebut menjadi makna yang tersimpan dalam memori si penerima. Jadi, cobalah untuk berhati-hati dalam berbicara, gunakan seninya agar dapat menjadi komunikator yang baik, yang bisa menyebarkan makna indah dari suatu kata.
Referensi: Bicara Itu Ada Seninya oleh Oh Su Hyang & Seni Komunikasi oleh Dadi Purnama Eksan
Penulis: Nabiilah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar