Sabtu, 15 September 2018

Manifestasi Autentik Profil Kader Ikatan



Manifestasi Autentik Profil Kader Ikatan 
(Telaah Reflektif dan Implementatif)


Oleh:
Bayujati Prakoso



 



“Kader IMM harus secara total tampil sebagai gerakan mahasiswa Islam yang menampilkan wajah Islam yang ramah, santun, toleran, peduli, unggul, dan bisa menjadi contoh (uswatun hasanah) bagi kehidupan masyarakat sekitarnya. Segala aktifitas kehidupan kader IMM baik dalam konteks aktifitas berorganisasi, aktifitas di kampus, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, haruslah berangkat dengan paradigma keramahan, kesantunan, toleransi, peduli, tolong menolong, dan menjadi teladan (uswatun hasanah) bagi semua orang tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, kelas sosial, ras, suku dan agama tertentu. Hal ini tidak saja sekedar menjadi sebuah paradigma, tapi memang harus betul-betul menjadi kesadaran kolektif untuk sekuat-kuatnya dilakukan proses internalisasi, ideologisasi, dan dinamisasi nilai-nilai ini dalam nafas kehidupan kader IMM. Sebisa mungkin ini menjadi IMM Culture, IMM Value, IMM Ideology, and IMM Identity yang harus mendarah daging dalam setiap pribadi-pribadi kader Ikatan.”
Amirullah - IMM Untuk Kemanusiaan (2016)
 
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
            Ketika berbicara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tidak lepas dengan upaya Muhammadiyah mewujudkan kader-kader muda nya sebagai kaum intelektual muslim. Diharapkan kader IMM menjadi penerus estafet kepemimpinan dan menjalankan misi dakwah Muhammadiah. IMM harus mencerminkan perilaku yang ingklusif, toleran, santun, damai, penuh kasih, tolong menolong, memiliki moral force, kedalaman Ilmu, dll. Pada prinsipnya, Al-qur’an dan semangat akhlak Nabi merupakan landasan teologis-filosofis-historis-ideologis yang harus secara gigih dipegang kuat oleh kader IMM. Misalkan secara umum dan sangat populer kita kenal seperti kepribadian amanah, jujur, berani menyampaikan dan menegakan kebenaran serta berkepribadian pintar-cerdas. Nilai-nilai seperti ini haruslah benar-benar dikejewantahkan oleh kader IMM di manapun berada.
            Manifestasi Autentik Profil Kader Ikatan (Telaah Reflektif dan Implementatif)terbagi menjadi 2  bahasan: Pertama, tentang Manifestasi Autentik Profil Kader Ikatan, lalu yang kedua tentang Melacak Autentisitas & Substansi Kader Ikatan: Sebuah Telaah atas Pemikiran & Gagasan.
Manifestasi Autentik Profil Kader Ikatanadalah sebuahide, wacana dari gagasan-gagasan penulis terkait bagaimana kader dilihat dalam segala aspek. Mewujudkan purifikasi dengan manifestasikemurnian gerakan seorangkader ikatan, kemudian terarah pada kembali pada khittah perjuangan dan muruah IMM. Ini yang menjadi perhatian penulis kali ini. Bukan bermaksud meng-klaim atau mem-vonis spirit gerakan IMM. Namun, lebih daripada itu, sebuah solusi purifikasi dengan adanya pemurnian mengembalikan khittah perjuangan IMM, yang termasuk nilai-nilai IMM, yang sejatinya kader ikatan yang dimulaidari pembentukkan jati diri kader, permasalahan, hingga solusi kader IMM dalam bergerak yang menjadi diskursus yang menarik disetiap bahasannyasebagai langkah konkrit nya. Yang kemudian ini sebuah konsekuensi logis Kader IMM untuk memahami nya. Agar kader IMM tidak lepas landas dalam menahkodai kapal nya (dalam bergerak di ikatan).
            Dalam hal ini, penulis berupaya melakukan analisis-interpretasi terkait pengembangan gagasan, mempertajam daya nalar analasis dalam merespon berbagai persoalan dalam tubuh kader IMM. Tidak lupa sebuah gagasan, ide ini didasari atas keresahan dan langkah kontemplatif penulis. Melihat gambaran/perwujudan yang seharusnya bagaimana kader IMM berjalan sesuai arah gerakan nya. Bukan mengklaim atau memvonis tetapi lebih pada melacak autentisitas dan substansi seorang kader IMM dalam menjalankan estafet kepemimpinan termasuk kemurnian kader IMM (sejatinya kader IMM), setidaknya idealitas, serta substansi dalam orientasi gerakan nya di IMM. Sebab, seorang kader IMM, tidak cukup untuk mengetahui saja, melainkan perlunya mengetahui, mengerti, memahami dan terakhir mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, Tri Kompetensi Dasar, Nilai Dasar Ikatan, Trilogi IMM.
            Di samping hal di atas, watak kader IMM tidak mudah melemparkan atau menuduh seseorang atau kelompok lain yang berbeda dengan tuduhan sesat, kafir, atau bid’ah. Kekisruhan, konflik horizontal, saling mengumbar benci disebabkan perbedaan bukanlah merupakan watak dari pribadi-pribadi kader IMM. Sebagaimana telah penulis sebutkan sebelumnya bahwa watak Islam yang menekankan kasih sayang, kesantunan, tawasuth, dan toleransi merupakan landasan dari kepribadian kader IMM. Hal ini juga selaras dengan hasil ramuan pemikiran di Muktamar Muhammadiyah yang ke-47 tertuang melalui rekomendasinya menyebutkan "Akhir-akhir ini energi umat juga tersedot dalam persoalan pertentangan antara pengikut kelompok Sunni dengan Syiah. Muhammadiyah mengajak umat Islam, khususnya warga Persyarikatan, untuk bersikap kritis dengan berusaha membendung perkembangan kelompok takfiri melalui pendekatan dialog, dakwah yang terbuka, mencerahkan, mencerdaskan, serta interaksi sosial yang santun,"[1]
            Maka, jelas dikatakan Amirullah (2016) dalam bukunya IMM Untuk Kemanusiaan, bahwa saling mengumbar dendam, saling menghakimi dan melakukan kekerasan antar umat beragama serta inter umat beragama dengan berbagai tuduhan apapun, baik kafir, sesat, liberal atau saling menuduh bid’ah antara satu dengan yang lain dengan fanatik buta dan dengan kekerasan merupakan perilaku yang tidak sesuai dengan watak dan semangat Islam.
            Pandangan-pandangan seperti ini merupakan corak dari kepribadian Muhammadiyah. Kepribadian Muhammadiyah berarti kepribadian IMM juga, kepribadian IMM sesungguhnya adalah kepribadian setiap kader IMM di manapun berada. Inilah yang secara tegas penulis katakan di bagian lain buku ini adalah bahwa kesadaran yang mesti kita bangun sekuat-kuatnya adalah dari kesadaran paradigmatik (mendalami pemikiran-pemikiran seperti ini secara kuat) hingga pada kesadaran mengaktualisasikan paradigma ini dalam kehidupan publik. Inilah yang penulis sebut dari dunia idealitas ke realitas. Paradigma akhlak sebagaimana secara singkat dijelaskan di atas harus dibumikan, digelorakan, disemarakkan, dan dibudayakan lewat agenda-agenda perkaderan, kegiatan-kegiatan pelatihan, acara-acara seminar, dialog-dialog, diskusi-diskusi rutin, dan lain-lainya. (Amirullah, 2016: 250)
            IMM mampu untuk menjalankan hal tersebut dikarenakan memang minimnya semangat berkemajuan kader, minimnya diskusi-diskusi yang pada akhirnya membuahkan semangat gerakan ilmu amaliah, amal adalah ilmiah. Sejalan dengan Ahmad Sholeh (2017), “Ini sebagai wujud tanggungjawab IMM sebagai kader bangsa dan kader umat. Maka, proses pengamalan gerakan IMM mesti sesuai dengan nilai-nilai dan landasan perjuangan IMM.” (Sholeh, A, 2017: 87)
            Dengan begitu, cita-cita dan corak gerakan ilmu amaliah, amal adalah ilmiah dapat tersusun dan teraplikasikan dengan baik. Ini berimplikasi pada mengembalikan autentisitas (kemurnian) gerakan IMM sebagai organisasi kader Islam yang berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah.



Melacak Autentisitas &SubstansiKader Ikatan: Sebuah Telaah atas Pemikiran & Gagasan
“IMM diharapkan mampu menjadi prototipe gerakan mahasiswa yang ideal. Ideal dalam hal gerakan dan kaderisasi. Berbagai gagasan dan ide-ide gerakan baru, muncul mengemuka dalam berbagai ekspresi. Yang kadang (kebanyakan saat ini) lebih bersifat jangka pendek, seremonial, dan minim refleksi.”
Ahmad Sholeh – IMM Autentik (2017)

            Melihat pandangan IMMawan Sholeh, seakan menjadi tamparan keras bagi tubuh ikatan. Persoalan kaderisasi, hingga pada gerakan nya. Menjadi perhatian untuk semua kader IMM. Sholeh (2017) menawarkan dengan Autentisitas (kemurnian) dan substansi gerakan IMM. Yang tentunya perlu digali dan dipahami untuk kemudian dihayati dan dijadikan landasan bergerak. Kesadaran yang dipupuk dikalangan kader IMM perlu digelorakkan, sehingga upaya-upaya kolaboratif, partisipatif akan terlihat dan secara langsung seperti magnet yang menempel dan menarik besi, dimaksudkan kader-kader IMM akan ikut dalam memasifkan pergerakan dalam tubuh ikatan. Yang penulis maknai sebagai, “Kesadaran individu, yang kemudian menjadi kesadaran kolektif.”
            Sejatinya di dalam Anggaran Dasar sudah sewajarnya sebagai kader IMM secara langsung untuk mengaplikasikan tujuan tersebut dalam sebuah program yang berorientasi pada Amar ma’ruf nahi munkar. Selaras dengan itu, “IMM pada masa sekarang dihadapkan pada persoalan kebangsaan yang semakin tidak kondusif”, (Qorib, M, et al, 2015: 19). Artinya bahwa persoalan demi persoalan hingga kini yakni pada persoalan kebangsaan menyangkut pemahaman kader-kader IMM pada kepekaan sosial kemasyarakatan, juga dilandasi oleh ideologis IMM yang kuat dari para kader IMM itu sendiri. Perlunya pemahaman-pemahaman dari seorang kader IMM untuk menjalankan estafet kepemimpinan selanjutnya.
            Melihat realitas hingga kini, kajian/diskusi tentang ideologi khususnya dalam gerakan ikatan masih terbilangsepi. Tradisi intelektual yang minim dikalangan tubuh ikatan menjadikan kering intelektualitas seorang kader.Padahal, Ahmad Sholeh di dalam bukunyaIMM Autentik (2017) mengatakan, IMM mampu menghasilkan ‘sesuatu’ alias produk intelektualnya.Maka, agenda-agenda mengaksikan slogan IMM adalah sebuah konsekuensi logis untuk mewujudkan cita-cita besar IMM.
            Oleh karena itu, identitas ideologi IMM yang niscaya terefleksikan dalam praksis gerakan IMM menjadi pondasi nya jaz merah. Dalam tataran konseptual, IMM memiliki sebuah konsep yang penulis yakini sudah komprehensif. Konsep ideologi IMM yaitu Trilogi Ikatan yaitu Keagamaan, Kemasyarakatan, Kemahasiswaan dan juga Tri Komptenesi Dasar yaitu Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas memiliki konsep yang khas dibanding pola gerakan lain. Hal ini sebagai sebuah respon sosial dan kebangsaan, tidak terlepas jika kita memahami awal terbentuknya dan sejarah perjuangan, maupun pergerakan IMM. penulis ingin meyakini IMM dalam rangka mewujudkan eksistensi (keberadaan) sebagai organisasi kemahasiswaan. Tapi hal ini merupakan faktor penting terhadap eksistensinya IMM dengan organisasi lain,. Hanya saja, pada saat sekarang penulis dan semua kader IMM pun sekiranya menyadari bahwa ketiga dasar yaitu Tri Komeptensi Dasar dan Trilogi Ikatan dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan yang sesungguhnya.
            Penulis mencoba merefleksikan bahwasanya memang lain daerah, lain pula keunggulan dan permasalahan yang dialami, mulai dari tingkat komisariat sampai tingkat Dewan Pimpinan Pusat. Jika penulis lihat di dalam tataran komisariat penulis pun melihat sekiranya pemahaman akan ideologis dan gerakan IMM masih pada tataran mengetahui dan mengetahui serta menjalankan program kerja-program kerja saja tanpa adanya output yang nyata, bahkan berkelanjutan dalam menjalankannya. Output yang jelas disini yakninya memberikan sumbangsih kepada ummat dalam segi kebutuhan yang diperlukan. Hanya seolah menjadi Event Organizer dalam sebuah acara-acara saja. Di buktikan kembali, jika penulis lihat pemahaman tentang ke-IMMan pun seorang kader IMM yang penulis amati dan pengalaman penulis, masih jauh dalam taraf ia menjadi seorang kader yang militan, dan loyal terhadap ikatan. Tidak sedikit yang kurang memahami arti IMM itu sendiri padahal mereka sudah melewati jenajng perkaderan Darul Arqam Dasar hingga menjadi Pengurus.
            Lanjut, jika kita melihat di beberapa daerah yang diamati oleh penulis ada yang lebih mengangkat pada pemahaman kader di sisi religiusitas-nya, menekankan penanaman nilai agama secara mendalam kepada seluruh kader. Adapula yang yang menenaknkan pada pembangunan dari sisi intelektualitasnya dengan sering mengkaji, berdiskusi ataupun melakukan bedah buku/film dimaknai dan dikaji dalam perspektif keilmuan, dan sebagainya sebagai bentuk gerakan secara keilmuan. Lain halnya, ada fokus pada aksi sosial kemanusiaan dalam penerapan surat Al Ma’un sebagai ayat perjuangannya, serta Q.S. Ali Imran: 104.s
            Dengan basis kekuatan yang berada di kampus-kampus baik dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) maupun non PTM, menjadikan IMM sebagai organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kader-kader akademis Muhammadiyah masa depan. Posisi ini diharapkan IMM untuk selalu melakukan reorientasi dan penajaman visi, misi, peran, agenda, strategi, metode serta teknik gerakan termasuk pemahaman akan ideologi gerakan IMM. Dalam arti lain, IMM perlu melakukan penguatan gerakan, baik dari segi pemberian pemahaman terkait landasan pemikiran maupun program nyata nya.
            Menjadi hal yang fundamental bahwa seseorang dikatakan memiliki loyalitas jika seseorang tersebut memiliki kepatuhan dan kesetiaan terhadap organisasi. Kader dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah diharapkan mampu menjadi kader umat, kader persyarikatan dan kader bangsa. Tentunya kader yang mempunyai bakat dan minat harus terus diberikan peluang-peluang untuk masuk dalam roda kepemimpinan yang dimilikinya. Ada sebuah pepatah mengatakan bahwa, “Seorang kader bukan hanya mampu berbicara lantang di depan umum tetapi bagaimana ia mampu menjadi seorang pemimpin yang betul-betul mengaplikasikan apa yang telah keluar dari hati dan perkataannya untuk membuktikan bahwa ia adalah pemimpin yang sejati yang dicita-citakan oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah”. Seorang pemimpin dituntut untuk cerdas dalam menata pikiran, cerdas dalam menata mental, cerdas dalam menata fisik, dan bukan hanya itu seorang kader tentunya juga harus cerdas dalam menata spiritual, intelektual dan humanitas sebagai Tri Kompetensi Dasar yang ada di dalam gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.
            Ada sebuah konsep yang penulis maknai sebagai proses pergerakan seorang kader ikatan, yakni snya sebelum bergerak kita akan melakukan proses berfikir, setelah berfikir buahkan sebuah konsep. Dari konsep-konsep tersebut akan lahir sebuah gagasan, dan penambahan cakrawal pemikiran seorang kader sehingga dalam prakteknya tidak keluar dari tujuan nya. Setelah melakukan proses membuat dan mematangkan konsep, lalu bergerak. Agar tertata dan tersistematis sebuah gerakan sehingga memaknai gerakan tidak cukup hanya dengan gerak, gerak dan gerak, atau berfikir, berfikir dan berfikir saja.
            Jika mendengar sebuah konsep gerakan seorang kader IMM yang menggetarkan, menggerakkan hati dan jiwa seluruh kader IMM yakni yang dilontarkan oleh Ketua DPP IMM 2014-2016, Kakanda IMMawan Beni Pramula yaitu, “Gerakan IMM Luruskan Kiblat Bangsa”. Itulah yang diungkapkan, ada sebuah makna yang sangat mendalam dari kalimat tersebut yaitu bagaimana selaku kader IMM perlunya memaksimalkan pemahaman kita, ideologi IMM hingga tataran pergerakan IMM agar jalannya roda ikatan mberjalan efektif dan produktif sehingga lahirlah sebuah kader yang militan pun loyal terhadap ikatan. Bagaimana tidak negara ini menjadi negara yang maju dan berkembang jika di motori dan digerakkan oleh kader generasi penerus bangsa. “Dengan sepenuh hati dan jiwa menyandang gelar kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berarti segala perkataan, perbuatan dan kehidupan sehari-hari haruslah seiring dengan tujuan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah yaitu, mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia demi mencapai tujuan Muhammadiyah”, (Qorib, M, et al, 2015: 27).
            Menjadi bagian dari IMM, penulis memaknai bahwasanya corak IMM dibarengi juga dengan pemahaman mendalam dari seorang kader. Bangun pemahaman yang kuat, bangun kepercayan diri yang kuat, bumikan semangat literasi, bangun jaringan pertemanan yang luas dengan kader-kader IMM se-Indonesia, bangun silahturahmi yang harmonis dan tingkatkan ukhuwah Islamiyah, jadilah kader IMM yang aktif, responsif, progresif, prestatif dan tentunya kompetitif, sehingga mempunyai keunggulan diri yang baik dan daya saing yang tinggi untuk ada dalam era modern saat ini, jangan lupakan agama, juga tidak lupa tingkatkan gerakan IMM sesuai ideologi dan gerakan IMM itu sendiri dengan berpatokan pada amar ma’ruf nahi munkar, dan terakhir, menjunjunng, serta menerapkan “Fastabiqul khairat” yaitu berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Kemudian pada mengaktulisasikan sebuah janji, sumpah, loyalitas, kekeluargaan akan menjadi bagian dari kehidupan sebenarnya. Seperti ungkapan Amirullah (2016), ia menjelaskan bahwa, “Memahami bagaimana perkembangan pemikiran yang terjadi di dalam IMM, kematangan perjuangan IMM serta sikap kritis IMM yang selalu berusaha untuk mencari solusi terhadap problem-problem yang muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, senantiasa berdiri paling depan untuk melawan setiap bentuk kezholiman, bahkan tidak segan-segan untuk berhadapan secara diametral dengan penguasa, apabila dirasakan bahwa keputusan-keputusan yang diambil oleh penguasa tersebut tidak lagi sesuai dengan kepentingan rakyat. Kepada seluruh anggota, kader dan pimpinan IMM, kobarkan terus perjuangan humanisme-mu. Percayalah, “no sacrifies is wasted”  tidak ada pengorbanan yang sia-sia.” (Amirullah, 2016: 15-16).
            Disini dapat dipaparkan bahwasanya membubuhkan tentang ide dan gagasan bagaimana seharusnya kader-kader IMM memaksimalkan perannya di tengah-tengah dinamika kebangsaan yang demikian kompleks dewasa ini, namun juga menawarkan solusi-solusi segar untuk kemajuan gerakan IMM di masa depan. Selain mengajak untuk lebih memperdalam pengetahuan atau wawasan, terutama bagi mereka yang saat ini masih berjibaku sebagai aktivis gerakan Mahasiswa atau kepemudaan.
            Jika kita renungi dan pahami lebih mendalam dan dalam tataran makro cakupan nya seorang kader IMM pun juga sebagai penerus generasi bangsa yang cerah dan menjadikan bumi Indonesia ini berdaulat, seperti pada ungkapan Kakanda IMMawan Beni Pramula dalam buku Amirullah (2016), yaitu:
“Masa depan sebuah Bangsa sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya, agar dapat menjawab tantangan kebangsaan khususnya di abad ke 21. Etos kerja yang tinggi, sumberdaya diri yang mumpuni, cakrawala pandang yang luas tentang dinamika lingkungan strategis global, regional, dan nasional harus dimiliki oleh generasi muda penerus bangsa, bahwa sesungguhnya kompleksitas dan persaingan yang serba kompetitif dalam abad 21 menuntut IMM, sebagai organisasi kemahasiswaan terbesar di Indonesia, untuk dapat cepat beradaptasi dengan meningkatkan kualitas diri, produktifitas nilai-nilai religiusitas dan aktualisasi keilmuan. Oleh karena itu, IMM harus mampu merebut tantangan tersebut menjadi peluang untuk maju dalam rangka pengenjawantahan misi dakwah Muhammadiyah.” (Amirullah, 2016: 11-12)
            Maka, jelas dapat esensi seorang kader, lebih jauh kader bangsa. Seorang kader yang mana akan menjadi seorang pemimpin ummat dan memiliki loyalitas yang tinggi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi agent of change atau pembawa perubahan dan juga harus mampu menjadi lokomotif of change atau penggerak perubahan. Seorang kader IMM, tidak cukup untuk mengetahui saja, melainkan perlunya mengetahui, mengerti, memahami dan terakhir mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini sebagai upaya memperluas ekspansi dakwah, dibutuhkan seorang kader. Selain itu, kader-kader IMM ini sebagai penerus estafet kepemimpinan selainjutkan didalam internal IMM dari Komisariat-tingkat tertinggi DPP bahkan kedepannya kader IMM tidak menutupkemungkinan untuk mengisi garda-grada kepemimpinan dalam kabinet dan sistem pemerintahan di Indonesia karena kader IMM juga diharapkan menjadi kader bangsa yang menjungjung nilai-nilai nasionalisme. Korelasi dari tujuan diadakannya perkaderan dengan gerakan akan membentuk kader IMM ini dapat mengerti, memahami dan mengaplikasikan pemahaman-pemahaman IMM dari kulit luar hingga mendalam seperti pemahaman akan ideologi, Trilogi, Tri Kompetensi Dasar IMM, Nilai Dasar Ikatan dalam menjalani perjuangan di IMM. Tujuan perkaderan itu melahirkan kader yang mana dapat melanjutkan gerakan IMM selanjutnya, tak lepas dari tujuan IMM tersebut yakni “Mengusahakan terbentuknya akademis Islam sesuai dengan tujuan dan cita-cita Muhammadiyah” dan juga tidak terlepas dari nilai-nilai ideologi dan gerakan IMM. Pencapaian seorang kader yang loyal, militan dilandasi oleh dasar pemikiran dari kader tersebut, apakah ia mau bergerak maju/stuck di tengah jalan. Segala aktifitas kehidupan kader IMM baik dalam konteks aktifitas berorganisasi, aktifitas di kampus, kehidupan bermasyarakat dan berbangsa pelunya disinergikan dengan diri nya sendiri maka dari itu, perlunya proses perkaderan yang matang, sesuai dengan konsep alias tidak terlepas dari Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) IMM, Nilai Dasar Ikatan, Tri Kompetensi Dasar IMM, juga didasari oleh Tanfidz IMM. Sehingga, dalam pencapainnya seorang kader dapat menumbuhkan dan mengaplikasikan jiwa kritis, aktif, interaktif, responsif, prestatif dalam dan untuk ikatan, persyarikatan, bangsa dan negara.
            Jika mengulik sejarah IMM, pada pertemuan awal pembentukan IMM yang dilakukan di rumah Djazman Al Kindi bersama para sahabat dan tokoh-tokoh pendiri IMM. Berbicara perihal pembentukkan organisasi IMM. Bung Kindi menjelaskan,
            “... nama organisasi itu nanti adalah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah – IMM. Toejoean kita bentoek IMM adalah upaya kita pelihara hoeboengan  silatoerrahim dan kasih sajang antar mahasiswa dan keloearga Muhammadiyah, maka saat penerimaan mahasiswa baroe nanti diseloeroeh pergoeroean tinggi jang kita miliki haroes laksanakan “Masa Kasih Sadjang” itu. Begitu Bung Kindi memulai dan membuka cakrawala pemikiran kepada para sahabatnya dalam pertemuan itu. Lanjut, “mengapa haroes “masa kasih sadjang’ pak Jazman, salasatu peserta Muhammad Musa bertanya dengan sigap dan tepat. Kemudian Bung Kindi melanjutkan pembicaraan dan sekaligus memberikan jawaban kepada Muhammad Musa “begini!!!,, kenapa harus “masa kasing sadjang” ? karena pada proses inilah kita semua bisa menanam doktrin bahwa Islam itu agama damai, sejoek dan tenterem. Sehingga nanti mahasiswa kita tidak moedah dipengaruhi oleh ideologi komunisme yang berpaham materialisme, pencipta teori ini “Karl Marx”. Kita haroes bisa lindoengi anak-anak mahasiswa kita dari pengaruh mereka karena sangat berbahaya bagi Negara dan bangsa”. Itulah jawaban Bung Kindi kepada Muhammad Musa waktu itu. (Tarano, Rusdianto S, 2016: 24-25)
            Mari kita melihat betapa dalam nya dan kritis nya founding fathers IMM yang telah merumuskan sebegitu dalam nya nilai-nilai ikatan dan bagaimana kelanjutan IMM pada saat itu sekarang dan tantangannya untuk masa depan. Diharapkan mahasiswa yang menjadi kader IMM tersebut memiliki tingkat pemahaman yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi kepada sesama. Drasa kasing sayang akan menimbulkan sebuah harmonisasi kehidupan yang baik diwujudkan dengan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga kader-kader IMM ini mempunyai kepribadian yang baik dan mulia. Disamping, memiliki tanggungjawab akademik, juga memiliki tanggungjawab sosial dimasyarakat dan secara universal di tingkat nasional.
            Lanjut, tidak hanya kader IMM bebenah diri untuk menjalankan tampuk pimpinan selanjutnya, namun untuk membina potensi dan kemampuannya untuk menjadi kader bangsa yang sejati. Jika kita pahami lebih mendalam, mengingat historis yang sangat penting dalam bagaimana kelanjutan IMM yakni seperti pada sela-sela pertemuan Djazman Al Kindi dengan sahabat dalam pembentukkan IMM dirumah beliau, kemudian Mursalin Dahlan ikut bertanya “kapan pak Djazman haroes berkumpul kembali oentoek nyatakan satoe pendapat agar organisasi IMM ini bisa kita siarkan ke seloeroeh noesantara dan kepala-kepala sekolah maoepoen pergoeroean tinggi Moehammadijah se-Indonesia”. “Sebaiknya kita berkumpul sesegera moengkin, karena tidaklah dapat di poengkiri kalau IMM dibangkitkan oentoek menghimpoen, menggerakkan, membina potensi mahasiswa oentoek menoemboehkan kesadaran dan tanggoengjawabnja sebagai kader Moehammadiijah, kader oemat, kader bangsa. Kader jang ber-fastabiqoel khaerat dalam meningkatkan pemikiran ilmoe oentoek dijadikan dasar amaliah. Sekaligoes sebagai kader beramal ilmiah”. Jawaban Djazman Al Kindi sebagai pendiri (founding father) IMM sangat cerdas dan membuat para peserta pertemuan yang hadir pada waktu itu terpana dengan penjelasan bung Kindi. (Tarano, Rusdianto S, 2016: 25-26)
            Begitu, IMM dari masa ke masa, yang mana sebagai kader IMM perlu tahu akan sejarha IMM, bagaimana kondisi pada saat itu, dan mencoba merefleksikan itu pada masa sekarang dan bebenah untuk masa depan IMM dengan kata lain, memahami historis adalah jembatan kita untuk mengetahui IMM lebih dalam lagi. Semakin dalam kita mengetahui, makan semakin memahami Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah lebih jauh lagi. Jadilah kader IMM yang menjunjung nilai-nilai ideologi dan gerakan IMM sehingga militansi dan loyalitas kade bisa terlihat nyata dan dapat mewujudkan tujuan IMM mencakup tujuan para pendiri IMM dengan tepat. Terakhir, penulis mengutip perkataan kakanda IMMawan Beni Pramula dalam Amirullah (2016), “.... bergerak aktual menjawab, mengisi dan berperan menghadapi tantangan zaman. “Sejarah adalah apa yang kita tulis hari ini untuk generasi mendatang. Menulisnya dengan tinta emas atau catatan kelam”. Demi IMM, demi masa depan yang lebih cerah. Bangun pemahaman yang kuat, bangun kepercayan diri yang kuat, bumikan semangat literasi, bangun jaringan pertemanan yang luas dengan kader-kader IMM se-Indonesia, bangun silahturahmi yang harmonis dan tingkatkan ukhuwah Islamiyah, jadilah kader IMM yang aktif, responsif, progresif, prestatif dan tentunya kompetitif, sehingga mempunyai keunggulan diri yang baik dan daya saing yang tinggi untuk ada dalam era modern saat ini, jangan lupakan agama, juga tidak lupa tingkatkan gerakan IMM sesuai ideologi dan gerakan IMM itu sendiri dengan berpatokan pada amar ma’ruf nahi munkar, marilah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Semangat tajid IMM, dan kemurnian dalam ide, gagasan serta gerakan yang kemudian menjadi konstruksi kader ikatan.  Sejalan dengan pernyataan Ahmad Sholeh (2017), “Untuk itu, IMM kemudian perlu melakukan tajdid dan purifikasi, sebagai tradisi gerakan”. Lebih lanjut, pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam  IMM Autentik (2017) menegaskan bahwa, “Kalau ada orang yang mengatakan kurang tajdidnya Muhammadiyah, maka yang bertanggungjawab adalah IMM”. (Sholeh, A, 2017: 7) Bukan tanpa alasan penegasan dari Pak Haedar Nashir terkait IMM, yang mana ini menjadi bahan refleksi bagi kader IMM terkait bagaimana tradisi religiusitas-humanis-intelektualitas menjadi tumpu spirit berkemajuan autentisitas dalam bergerak. Maka, penulis mengkolaborasikan ide-ide, gagasan Amirullah & Ahmad Sholeh terkait bagaimana kepekaan seorang kader yang disuguhkan pada tradisi jangka pendek, yang kemudian terefleksikan dengan semangat tajdid yang pada akhirnya pada purifikasi dengan upaya pemurnian ide-ide gerakan (pengembalian) nilai-nilai IMM dan cita-cita luhur K.H. Ahmad DahlanDengan adnaya mengembalikan khittah perjuangan IMM didasari nilai-nilai tersebut menjadi sebuah formula yang mencerahkan dalam melandasi kader IMM dalam bergerak. Tentunya, hal tersebut menjadi nadi dan nafas kader IMM dalam bergerak, hingga berdiaspora (diaspora kader).
            Menafsirkan Tri Kompetensi Dasar (TKD) IMM yakni Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas. Penulis memaknai ini sebagai landasan dasar IMM untuk bergerak kedepannya. Romantisme seorang penggerak pembawa perubahan dengan berjaz merah, dan memiliki predikat kader dan pengurus IMM ini menjadikan pribadi kader yang anggun dalam moral, unggul dalam intelektualitas akan tetapi tidak berhenti pada intelektualitas saja, IMMawan dan IMMawati pun pada hakikatnya harus memiliki kepribadian yang religius, intelektual dan humanis. Porsi tersebut jika dilaksanakan akan menjadi suatu dorongan terhadap diri IMMawan dan IMMawati dalam menggerakan roda ikatan. Basis dakwah yang di munculkan oleh Muhammadiyah dan turunnya pada IMM ini menjadikan suatu landasan yang benar-benar konkrit dan perlu dikaji dan dipahami secara komprehensif oleh diri seorang IMMawan dan IMMawati agar pencapaian dapat nyata dan berjalan semestinya.
            Mari refleksikan romantisme gelar IMMawan dan IMMawati dalam melakukan dakwah dengan segundang aktivitas ke IMM-an. Diharapkan pada IMMawan yang berani, membawa perubahan, gagah, serta IMMawati yang anggun serta berbusana muslimah yang sama-sama bersinergi IMMawan dan IMMawati dalam menjalankan aktivitas nya sebagai wujud loyalitas terhadap IMM. Namun dapat dibuktikan, IMMawan dan IMMawati tidak hanya berkapasitas ikatan saja, melainkan di isi dengan bubuhan intelektualitas akademik. Dalam akademik, kader IMM sejatinya menjalankan akademik dengan baik karena jangan lupa IMM adalah organisasi kemahasiswaan. Maka, jelas sangat di sayangkan dan sangat rugi kita seseorang yang “berjaz merah” yang memiliki makna dan arti yang kuat dengan gelar “IMMawan dan IMMawati” serta mempunyai motto “Fastabiqul Khairat” tidak dapat menyeimbangan dan melaraskan kegiatan akademik dengan organisasinya. Sejalan dengan itu, dengan di buktikannya sebuah prestasi di sisi intelektualitas akademiknya yaitu pada Indeks Prestasi (IP) yang baik dan juga prestasi dalam bentuk motivasi, inovasi dan menjalankan amanah IMM dengan baik.
            Penulis menyampaikan seorang IMMawan dan IMMawati yang memiliki kapasitas diri yang baik, terstruktur, dan mempunyai orientasi dan pandangan yang baik pula. Tentunya sebagai kader IMM sendiri ingin membuktikan bahwa seseorang yang spesial dengan gelar IMMawan dan IMMawati ini adalah orang-orang yang memiliki jiwa religiutas, intelektualitas, dan humanitas yang tinggi dan baik.Untuk itulah pembelajaran dengan hikmat, dan berproses menjadi sebuah parameter untuk bergerak melesat. Perbaikan diri, kualitas diri keimanan, hingga ke arah kemanusiaan universal menjadi pokok tujuannya. Menurut Abdul Munir Mulkhan dalam Boeah Fikiran Kijai H. A. Dachlan (2015) yakni “...semua orang harus memiliki dan terus mengembangkan etos pendidikan dan belajar dengan cara menjadikan dirinya sebagai murid dan guru.” (Mulkhan, Abdul Munir, 2015: 111)
            Disini sebagai kader IMM perlu refleksi bersama bahwa pembelajaran tidak hanya saat perkaderan saja, setelah itu lepas. Melainkan, dalam menjalani aktivitas ber-IMM hingga secara lebih luas kepada masyarakat. Kemudian, Abdul Munir Mulkhan melanjutkan, saat seseorang menjadi murid ia belajar dan menjadikan seluruh kegiatan hidupnya sebagai aktivitas belajar pada semua orang dalam tiap kesempatan. Ketika seseorang menjadi guru ia mengajar dan menyebar ilmu yang ia miliki pada siapa saja dalam kesempatan apa saja. Disini, sebuah konsep K.H. Ahmad Dahlan tentang pembelajaran ayng dijelaskan oleh Abdul Munir Mulkhan (2015) menjadi sebuah catatan refleksi untuk kita sebagai kader IMM. Ilmu, pegetahuan, semua itu fundamental yang mana menjadi tonggak usaha dalam bergerak. Pergerakan tanpa dilandasi pembelajaran, akan hampa. Jadilah, gelas yang kosong yang diisi air tidak penuh. Jika disaat gelas itu penuh, tuangkanlah air tersebut ke gelas yang lainnya agar dapat terisi juga gelasnya, dan teruslah berbagi air tersebut ke gelas yang lainnya.
            Setelah melalui proses yang harmonis dan terstruktur inilah yang membuat kita berpandangan dan memaknai sebuah masukan itu baik dan perlu gerakan perubahan dalam ber- IMM. Bagaimana seorang kader mengetahui, memahami/memaknai dan hingga pada tataran implementasi pandangan/ideologi dan gerakan IMM, salahsatunya di tentukan oleh bagaimana bertutur kata, bagaimana di lingkungan sekitarnya dan bagaimana kita bergaul dengan orang lain. Ini yang harus di tanamkan dan diperhatikan dalam diri seorang kader dan harus ada konsistensi dalam menjalani ikatan sebagai bentuk loyalitas dan kontribusi di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Tidak lupa untuk menumbuhkan sifat tanggungjawab terhadap diri sendiri dan tanggungjawab terhadap ikatan. Secara tidak langsung, kader akan merasa bahwa dia bermakna dan keberadaannya ada/diakui serta memiliki tanggungjawab yaitu berkontribusi dalam ikatan, dan bangsa, serta kader menjadi percaya diri dan memberikan sifat, sikap contoh yang baik kepada teman-teman seperjuangannya dalam ikatan organisasi maupun lingkup luar organisasinya dan memberikan dampak positif terhadap sekitar. Pelajaran yang sangat berharga sekali buat penulis dan teman-teman se-ikatan.
            Demikian sebuah refleksi, dan upaya penulis sebagai kader IMM umum nya untuk seluruh kader IMM di Indonesia. Jayalah IMM. Jaya abadi melimpahi perjuangan kami. Mengingat epsan KH. Ahmad Dahlan yaitu:
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, tapi jangan mencari hidup di Muhammadiyah, jika sudah sukses di masa depan dengan segala aktivitas dan kesuksesaannya tersebut kembalilah kepada Muhammadiyah.”
            Tetap teguh dalam keyakinan untuk tetap berproses dan berjuang di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Kader IMM akan terwujud loyal dan militan manakala terus menggali dan menggali dan memahami arti, makna, dan perjuangan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Dengan perjalanan yang dijalani di IMM yakinlah bahwa dengan penuh doa iman kita akan selalu diselimuti oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Semoga kader IMM sesuai sejatinya seorang kader IMM lalu dengan begitu, sehingga tercipta akademisi Islam yang berakhlak mulai sesuai dengan tujuan dan cita-cita Muhammadiyah. Terakhir, IMM sebagai gerakan intelektual, kader muda Muhammadiyah, dan kader bangsa. Kendati demikian, sebagai manifestasi kader IMM dalam bergerak, dan mampu mengamalkan nya dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika kamu cinta terhadap IMM. Kamu harus tahu arti, makna, dan perjuangan dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.”
IMMawan Nur Muhammad Majid Usrial
Ketua Umum PC IMM Jakarta Selatan Periode 2015-2016
Salam Ikatan,
IMM Jaya!
Billahi fi sabililhaq, fastabiqul khairat,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Daftar Pustaka
Buku:
Amirullah. 2016. IMM Untuk Kemanusiaan: Dari Nalar ke Aksi. Jakarta: CV. Mediatama Indonesia
Mulkhan, Abdul Munir. 2015. Boeah Fikiran Kijai H. A. Dachlan. Jakarta: Global Base Review & STIEAD Press
Qorib, M, Yofiendi Indah, Zailani, et al. 2015. Dalam Suatu Masa: Kumpulan Tulisan Kader IMM UMSU. Jakarta: Global Base Review
Sholeh, A. 2017. IMM Autentik: Melacak Autentisitas dan Substansi Gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Surabaya: PUSTAKA SAGA
Tarano, Rusdianto S, Muliansyah A.W. 2016. IMMawan Bung Karno: Novel Gerakan Kaum Merah dan Tanwir Perubahan. Jakarta: Global Base Review
Media Online:


[1] Lihat pada http://news.detik.com/berita/2986443/muhammadiyah-kritik-umat-islam-yang-suka-mengkafirkan-dan-tanamkan-kebencian  (11 Juli 2017)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar